Naratawa.id - Industri minuman keras (miras) dunia kini tidak lagi bisa tidur nyenyak. Di saat generasi sebelumnya menjadikan alkohol sebagai bensin utama dalam pergaulan sosial, Generasi Z justru membawa nilai baru yang lebih jernih.
Data terbaru dari Gallup dan Berenberg Research menunjukkan penurunan signifikan dalam konsumsi alkohol di kalangan anak muda usia 18–24 tahun. Di sisi lain, aroma kopi justru semakin semerbak di tongkrongan mereka.
1. Paradigma Sehat : Alkohol adalah Musuh "Productivity"
Bagi Gen Z, kesehatan bukan sekadar bebas dari penyakit, melainkan tentang optimasi diri. Alkohol, dengan risiko hangover (sakit kepala setelah minum) dan dampak negatif pada kesehatan mental, dianggap sebagai penghambat produktivitas.
Banyak Gen Z merasa bahwa alkohol memicu kecemasan (hangxiety). Sebagai gantinya, mereka beralih ke kopi yang menawarkan efek sebaliknya: fokus, energi, dan kejernihan pikiran. Kopi tidak lagi sekadar minuman kafein, melainkan "alat" untuk mendukung gaya hidup mereka yang serba cepat.
2. Rasionalitas Ekonomi : "Coffee is a Cheap Luxury"
Secara finansial, harga satu botol minuman beralkohol di bar jauh lebih mahal dibandingkan satu cup kopi spesialti.
Di Indonesia, data menyebutkan Gen Z rata-rata menghabiskan Rp25.000 hingga Rp50.000 untuk secangkir kopi berkualitas.
Angka ini dianggap sebagai "kemewahan kecil" yang terjangkau (affordable luxury).
Sementara itu, satu malam di bar bisa menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan inflasi, Gen Z lebih memilih mengalokasikan uang mereka untuk pengalaman yang tidak merusak dompet maupun kesehatan mereka.
3. Pergeseran Budaya Generasi
Tren Sober Curious telah melahirkan budaya baru di mana tidak minum alkohol dianggap "keren". Bar-bar kini mulai sepi, sementara kedai kopi yang buka hingga larut malam (24 jam) menjadi titik temu baru.
Gen Z mencari komunitas, bukan mabuk. Mereka lebih menyukai interaksi yang sadar sepenuhnya (mindful) agar bisa diabadikan di media sosial dengan estetik.
Kopi dengan latte art yang cantik jauh lebih "Instagrammable" dan aman bagi citra digital mereka dibandingkan foto saat sedang mabuk di lantai dansa.
4. Respon Industri Miras Adaptasi atau Mati
Penurunan laba ini memaksa raksasa industri alkohol seperti Heineken atau Diageo untuk memutar otak. Mereka mulai jor-joran memproduksi minuman nol alkohol (non-alcoholic spirits) dan mocktail.
Namun, tantangan terbesarnya adalah popularitas kopi yang kian tak terbendung. Perusahaan kopi kini bahkan mulai gebrakan dan inovasi baru yang semakin menarik minat Gen Z yang haus akan manfaat kesehatan.
Kesimpulan
Dunia sedang menyaksikan pergeseran nilai dari "mencari kesenangan sesaat" menjadi "mencari kesejahteraan jangka panjang." Bagi perusahaan miras, Gen Z adalah teka-teki tersulit abad ini. Bagi industri kopi, ini adalah masa keemasan yang belum pernah terjadi sebelumnya.





