Iklan

Iklan feed

,

Iklan

 



Kritik Tan Malaka terhadap Sistem Pendidikan Indonesia : Masihkah Relevan?

Naratawa
Rabu, 07 Januari 2026, Januari 07, 2026 WIB Last Updated 2026-01-07T16:57:10Z

Naratawa.id - Tan Malaka bukan hanya seorang revolusioner politik, tetapi juga seorang pendidik yang sangat kritis. Ia mendirikan Sekolah Sarekat Islam di Semarang sebagai tandingan terhadap sistem pendidikan kolonial yang menurutnya sangat cacat.

Berdasarkan karya-karyanya seperti Madilog, SI Semarang dan Onderwijs, serta pemikiran-pemikirannya yang tercatat dalam sejarah, berikut adalah poin-poin utama kritik Tan Malaka terhadap sistem pendidikan di Indonesia yang sebagian besar masih terasa Menjalar hingga kini:

Baginya, pendidikan di Indonesia (khususnya pada era kolonial yang polanya masih sering terlihat hingga kini) adalah Pendidikan mesin besar yang gagal memerdekakan manusia.

1. Kritik atas Mentalitas "Buruh Kerah Putih" (The Clerk Mentality)

Dalam tulisannya mengenai Sekolah Sarekat Islam (SI) Semarang, Tan Malaka menyoroti bahwa pendidikan kolonial sengaja dirancang untuk menciptakan tenaga kerja murah bagi birokrasi Belanda.

"Pendidikan kolonial hanya menghasilkan 'juru tulis' yang patuh, bukan manusia yang mampu menciptakan lapangan kerja atau memimpin bangsanya sendiri."

Kekurangan utama yang ia lihat adalah orientasi kelulusan. Siswa diajarkan bahwa keberhasilan adalah menjadi pegawai pemerintah atau perusahaan asing. Akibatnya, pendidikan tidak melahirkan inovator atau penggerak ekonomi, melainkan pribadi yang bergantung pada gaji dan perintah atasan. 

Mentalitas ini, menurut Tan Malaka, mematikan daya kreatif dan semangat kemandirian bangsa.

2. Masih Terbelenggu Logika Mistik dan Matinya Berpikir Kritis

Dalam mahakaryanya, Madilog, Tan Malaka mengidentifikasi bahwa kelemahan mendasar rakyat Indonesia adalah cara berpikir yang masih terjebak dalam "Logika Mistik".

Masalah : Sistem pendidikan sering kali hanya memindahkan dogma dari buku teks ke kepala siswa tanpa proses dialektika.

Dampaknya : Siswa menjadi pintar secara akademis tetapi tumpul secara logika. Mereka bisa menghafal rumus, tetapi tidak mampu menganalisis mengapa kemiskinan terjadi di sekitar mereka atau bagaimana memecahkan masalah sosial secara ilmiah.

Tan Malaka menekankan bahwa pendidikan harus berbasis pada Materialisme, Dialektika, dan Logika. Artinya, pendidikan harus berangkat dari realitas yang ada (material), melihat pertentangan dan perkembangan masalah (dialektika), serta diselesaikan dengan nalar yang sehat (logika).

3. Jurang Pemisah antara Sekolah dan Rakyat

Salah satu kritik paling tajam Tan Malaka adalah sifat pendidikan yang elitis dan asing. Ia melihat para lulusan sekolah tinggi sering kali merasa lebih mulia daripada petani atau buruh.

Pendidikan yang ada dianggap gagal karena :

Kurikulum yang tidak relevan : Materi yang diajarkan tidak relevan dengan kebutuhan hidup masyarakat lokal.

Buta atas Masalah Sosial : Siswa belajar di dalam "menara gading", tidak mengetahui penderitaan rakyat jelata (Proletar).

Bagi Tan Malaka, pendidikan seharusnya bersifat Populis ( bersinambung dengan rakyat kecil.)
 Itulah sebabnya di Sekolah Sarekat islam dulu Semarang, ia mewajibkan adanya pelajaran ekonomi dan pengorganisasian rakyat, agar siswa tidak hanya pintar berteori tetapi juga mampu mengorganisir massa untuk memperbaiki nasib.

4. Pendidikan Karakter : "Mempertajam Kecerdasan, Memperkukuh Kemauan"

Tan Malaka sering mengutip bahwa pendidikan sejati memiliki tiga pilar utama :

Mempertajam Kecerdasan : Agar tidak mudah ditipu oleh propaganda.

Memperkukuh Kemauan : Agar memiliki daya juang dan tidak mudah menyerah pada keadaan.

Memperhalus Perasaan : Agar tetap memiliki empati kepada sesama manusia yang tertindas.

Ia mengkritik sistem yang hanya fokus pada poin pertama (kecerdasan otak) tetapi mengabaikan pembentukan karakter (kemauan) dan kemanusiaan (perasaan). Tanpa kemauan yang kokoh, orang pintar hanya akan menjadi penonton sejarah. Tanpa perasaan yang halus, orang pintar akan menjadi penindas baru.

Warisan pemikiran Tan Malaka mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer informasi, melainkan alat pembebasan. Jika pendidikan hanya membuat seseorang menjadi robot yang patuh pada sistem yang tidak adil, maka pendidikan tersebut telah kehilangan maknanya.

Bagi Tan Malaka, kekurangan terbesar sistem pendidikan adalah ketika ia gagal mencetak manusia yang berani berpikir bebas dan berani bertindak untuk membela kaumnya.

Iklan ads